Laman

Friday, January 22, 2010

BERBAGI

Sepasang suami istri yang berusia lanjut, suatu kali mengunjungi kantor pusat untuk bernostalgia tentang suka duka ketika mereka masih aktif bekerja dahulu. Kesempatan bernostalgia ini rupanya dimanfaatkan mereka untuk menikmati sop buntut yang tersohor di kantin, dalam kantor pusat tersebut. Kebetulan, ketika itu jam makan siang sehingga banyak pegawai yang santap siang di sana.

Suami istri ini lalu masuk antrean untuk memesan sop buntut. Mereka memesan satu porri sop buntut beserta nasinya, dan dua gelas es teh manis serta sebuah piring kosong dan mangkuk. Semua yang melihat mereka heran. Sepasang suami istri ini hanya memesan satu porsi. Bahkan beberapa pegawai lain iba melihat betapa menderitanya nasib pensiunan ini sehingga untuk makan siang di kantin saja hanya memesan satu porsi. Sang suami lalu membagi nasi menjadi dua bagian, demikian pula sop buntutnya. Satu bagian untuk dirinya dan bagian lain diserahkan kepada istrinya. Mulailah mereka makan. Namun yang makan adalah suami dulu, sementara sang istri dengan tersenyum menunggu dan menatap kekasihnyua makan.

Seorang pegawai tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan menuju meja mereka. Dengan rasa iba, pegawai ini menawarkan kepada pasangan suami istri ini satu porsi sop buntut gratis, ia yang mentraktir. Dia merasa tidak tahan melihat sepasang suami istri ini, sementara ia sendiri hidup berkecukupan. Namun, tawaran pegawai ini ditolak secara halus sambil tersenyum oleh pasangan ini dengan menggunakan bahasa isyarat.
Sang suami pun kembali melanjutkan santap siangnya, sementara sang istri hanya menatap sambil terseyum hingga sop buntut bagiannya menjadi dingin. Setelah beberapa lama, kembali si pegawai yang berkecukupan gelisah melihat tingkah pasangan ini. Sang istri ternyata tidak makan, hanya menunggu sang usami makan. Betapa cintanya sang istri kepada suami hingga rela berkorban menunggu sang suami selesai makan.

Kembali, pegawai tadi dengan rasa penasaran mendatangi sang ibu dan bertanya, “Ibu, saya melihat ibu hanya menunggu bapak makan sementara Ibu sendiri tidak makan. Kalau boleh tahu, apakah yang ibu tunggu?” Dengan tersenyum sang ibu menjawab, “Yang saya tunggu adalah gigi, sementara ini masih dipakai Bapak!”

***
Masalah berbagai merupakan topik yang tidak habis-habisnya untuk direnungkan. Ketika perenungan ini bermuara pada wujud implementasi tingkah lakunya, akan muncul dorong untuk berbagi lainnya. Inilah manusia, yang ditaruh dalam hatinya Sang Pencipta kerinduan untuk senantiasa berbagi dan memanusiakan yang lainnya. Berbagi mengindikasikan pengorbanan dan kerelaan untuk memberi. Semakin banyak memberi, semakin tidak akan merasa kekurangan. Pengorbanan yang paling tinggi adalah dalam bentuk penyangkalan diri, yakni ketika yang dikorbankan adalah harga diri sendiri untuk meningkatkan harga diri orang lain. Di sinilah keindahan berbagi daripada sekedar menerima.

Namun, pergeseran paradigma moral saat ini telah membawa keindahan lain yang sifatnya semu, yakni keindahan dalam mengambil bukan untuk memberi. Bahkan dilain pihak banyak individu saat ini justru mau berbagi dan memberi untuk mencapai popularitas diri. Berbagi bukanlah merupakan bungkus yang tampak dari luar saja, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam. Itulah sebabnya ketika seseorang berbagi dengan orang lain sebaiknya tidak diketahui orang lain. Cukup diketahui oleh orang yang menerima perhatian dan kasih kita serta Sang Khalik yang melihat hati yang tulus untuk berbagi. Terkadang, dalam berbagi, iblis berusaha untuk mencari peluang mencuri kerendahan hati kita dengan memberi kepuasan semu yang menjadi kesombongan diri. Berbagi yang dilandasi ketulusan hati akan membawa perubahan yang drastis bagi kedua belah pihak dan komunitas yang ada di sekitarnya.

Berbicarta menunjukkan bahwa kita berbagi, sementara mendengarkan menujukkan kita peduli-demikian sang motivator pernah bertutur. Hal ini sekaligus memberikan gambaran bahwa berbagi tidak dapat dilepaskan dari peduli. Beberapa ahli mengatakan peduli mengawali langkah dalam berbagi.

Berbagi yang dilandasi oleh cinta yang tulus akan membuahkan keserupaan. Seorang kolega, konselor keluarga, mengatakan bahwa suami istri yang senantiasa berbagi, lama kelamaan akan menunjukkan wajah mereka yang semakin mirip. Mereka yang saling berbagi akan memilki kepekaan yang tinggi untuk memahami kebutuhan dan keinginan pasangan lainnya. Bahkan, dalam aspek spiritual, dikatakan semakin manusia berbagi beban, berbagi waktu, dan berbagi apa yang dimilikinya untuk sesama dan bagi kemuliaan Sang Khalik, maka sifat-sifatnya pun akan semakin mendekati sifat-sifat Sangk Khalik.

Seorang kolega pernah mengirim surat elektronik (e-mail) gambar presiden deirektur perusahaan sepatu Nike. Uniknya dalam gambar tersebut tampak sang presiden direktur tersenyum di depan logo Nike dengan senyuman mirip logo Nike tersebut. Refleksi yang dapat diangkat dari gambar tersebut adalah dalam konteks organisasi. Mereka yang telah mengembangkan rasa memiliki yang tinggi terhadap perusahaan, kesediaan untuk berbagi dan menaruh bisnis tersebut dalam hatinya akan memiliki keserupaan dengan nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan. Gambar tersebut juga mengindikasikan tidak ada tempat dalam hati dan pikiran mereka yang sudah bersedia berbagi dengan perusahaan untuk mengambil, memanipulasi, bahkan menggerogoti perusahaan demi kepentingan pribadi. Nah, saatnya kita berbagi.@@@ (diambil dari buku ““Half Full – Half Empty” – Setengah Isi Setengah Kosong-Parlindungan Marpaung hal. 1-5)”