Laman

Tuesday, September 3, 2013

AKU, SEORANG PEDAGANG FOREX SEJATI



Stefan Sikone, MM


  
Bagian II

(Tulisan ini mengisahkan tentang bagaimana aku menjadi seorang pedagang Forex Sejati)



Perjalananku sebagai seorang anak petani berubah menjadi seorang pedagang forex memang sungguh suatu proses yang panjang. Menjadi salesman buku di PT DIS, Jogyakarta sebagaimana telah saya gambarkan pada bagian I sebelumnya, dan itu terus berlanjut dalam tulisan selanjutnya di bagian kedua ini.

Akhir tahun 1997 saya dengan segenap hati memutuskan untuk tinggal di Semarang. Memang sebelumnya saya gabung dengan sebuah tim yang dikepalai oleh seorang teman bernama Yupiter Ome, dari Soe. Kami kos di Cinde Raya, Semarang bersama-sama namun kemudian saya berpisah dan berani untuk tinggal sendiri dekat-dekat dengan tempat kos kami di atas. Selain itu juga memang karena saya dapat suatu kesempatan untuk mengajar bahasa Inggris di SD Antonius I Pandean Lamper, Semarang dan kebetulan sekali bahwa waktu jual buku di Pertamina Semarang, ada seorang yang baik hati namanya Harry Muktiaji membeli sebuah paket dan belioau minta juga untuk diajarkan bahasa Inggris. 

Saya menyanggupi dan mulailah saya mengajar bahasa Inggris secara privat  setiap hari Rabu dan Sabtu. Walau ada tambahan jam terbang dalam hal ini menjadi seorang guru di SD dan pak Harry namun saya tetap menekuni dunia jual menjual buku yang sejak lama saya tekuni. Setiap hari bila tidak ada jam mengajar saya tetap pergi ke kantor-kantor atau rumah ke rumah, bahkwan pada malam setelah magrib saya tetap pergi selling di rumah-rumah yang saya anggap bisa menerima buku yang saya tawarkan, saya juga pergi ke rumah sakit – rumah sakit dan di sana antrian bersama dengan salesman prodeuk yang lain untuk menunggu kapan dokter atau asistennya memiliki kesempatan untuk menerima saya menawarkan buku yang saya bawa dari perusahaan.

Kesempatan untuk mengajar bahasa Inggris buat pak Harry Muktiaji di Pertamina bagiku merupakan suatu kesempatan di mana saya sungguh ditantang untuk menjelaskan bahasa Inggris secara benar dan dapat membawa dia dapat menjadi seorang yang dapat berbahasa Inggris secara aktif. 

Tahun 1998 beliau dapat kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya ambil S2 Magister manajemen di UII, Yogyakarta, dan sempat dia bilang kalau setelah satu semester saya kuliah, saya ajak adik Stef untuk ikut kuliah juga bersama saya sehingga nanti yang berkaitan dengan bahasa Ingris saya serahkan pada adik Stef. 

Bulu kudukku berdiri setelah mendengar hal ini karena memang saya juga ingin belajar bahkan dalam waktu yang secepat-cepatnya. Saya bersemangat sekali untuk belajar walau dari segi keuangan ya tidak dapat diandalkan sama sekali. Seingat saya ketika Magister manajemen baru booming pada tahun tersebut, biaya kuliahnya sangat mahal yaitu sekitar 40 Juta. Dari segi biaya saya tidak punya apa-apa, bahkan ketika diajak pun sebetulnya saya sangat pesimis, ‘pasti tidak mungkin’ dan memang kemudian seperti itu.

Semangatku untuk bertualang dari segi ilmu ini memang nampaknya sudah tertanam sejak di Seminari sehingga saya tetap nekat, suatu saat saya pasti belajar lanjut. Dengan sedikit uang yang saya peroleh dari hasil jualan, mengajar maka saya berani untuk mencari informasi apakah mungkin saya bisa mulai lebih dahulu sebelum pak Harry menyelesaikan 1 semester?
Ternyata benar juga harapanku, saya membaca di Koran ada sebuah sekolah tinggi Ilmu Ekonomi di Jakarta yang membuka kesempatan untuk kuliah magister manajemen, seingat saya ada semacam promosi bahwa aka nada potongan beasiswa. Saya tetap nekat dan mendaftarkan diri, mengisi formulir yang disediakan dan dikirimkan ke Jakarta. Eh sungguh hebat bahwa saya diterima menjadi salah satu peserta dalam perkuliahan itu.

Mental wiraswastaku makin dimantapkan di sini. Maksudku memang sekolah tinggi Ilmu Ekonomi yang satu ini memang pandai untuk menciptakan tenaga-tenaga wiraswastawan yang hebat, namanya seja Institut Pengembangan Wiraswasta Indonesia (IPWI) yang kemudian karena aturan pemerintah akhir kini namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta (IPWIJA). 

Selama mengikuti perkuliahan saya tinggal di institute Ilmu Pemerintah Jakarta, kebetulan sekali ditampung oleh teman-teman yang melanjutkan kuliah dari APDN Kupang dan juga mereka di antaranya ada temanku di seminari Lalian Atambua sekitar tahun 1984-1988. Dari segi biaya kos saya terbantu sekali. Saya tidak mengeluarkan sepeserpun untuk membayar kos dan ini tidak pernah akan kulupakan dalam hidupku, kuliah di Jakarta dengan biaya hidup tinggi, penghasilan tidak ada, dapat kos gratis. 

Tiap hari ketika tidak adak kuliah saya gabung dengan PT DIS Jakarta dan keliling untuk menjual buku-buku seperti yang saya jual di Jogya dan Semarang. Saya terbantu di sini karena dengan menjadi salesman di Jakarta saya dapat mengerti kota Jakarta bahkan dari gang ke gang, kantor ke kantor. Memang susah ya kalau jadi salesman di Jakarta karena kalau kita masuk rumah orang yang pagarnya tinggi pasti pertama-tama ketemu dengan anjing herder. Tetapi saya tetap nekat… pokoknya mau dapat uang atau tidak untuk bisa makan dan kuliah. 

Ketika materi perkuliahan mulai berkurang saya pergi ke Bandung. Di Bandung ini ada beberapa adik seperti Leo Diaz Kanis Ambasan, Vincent Pakaenoni, Flori Bata, dan juga kebetulan sekali juga ada adikku yang bungsu Agustinus Amfotis sedang pendidikan di STPDN Jatinangor Bandung.
Ketika di Bandung saya juga selain menjual buku setiap hari, saya bersama dengan Flori Bata dari kantor ke kantor, rumah ke rumah menjual handuk ajaib, dan sajadah. Luar biasa. Handuk ajaib ini memang ajaib karena ukurannya kecil tetap bila dibentang maka akan melar dan bisa seperti sebuah handuk ukuran 1 x 1 meter. Digulung dalam plastik dan bila ada konsumen yang minta untuk membuktikan keajaibannya maka si Flori ini dengan gaya yang kas akan menunjukkan bahwa handuknya benar-benar ajaib. Sedangkan soal sajadah ini juga menyelamatkan saya karena saya bukan seorang islam tetap ketika menjual sajadah ini maka banyak teman yang Islam pasti membeli dari saya. Biasanya mereka mengatakan dengan terus terang kalau orang non islam saja bisa menjual sadah ini mengapa kita tidak membantu dia untuk membeli menghabiskan stok yang disediakannya? Proses ini berlangsung hampir satu tahun dan pada tahun 2002 saya bisa menyelesaikan kuliahku di STIE IPWIJA, Jakarta. 

Kaitannya dengan perkuliahanku ini saya mau ucapkan terima kasih untuk pertama, teman-teman semua yang menampung saya secara gratis di IIP Jakarta untuk tinggal bersama mereka, dan mendapatkan banyak pengetahuan dari hasil diskusi setiap bertemu. Kedua, teman-teman seangkatan di STIE IPWIJA yang mana kalau ada buku yang saya tawarkan kepada mereka maka dengan senang hati membantu membeli buku yang saya tawarkan. Ketiga, pihak STIE IPWIJA yang sangat mengerti keadaan ekonomiku sehingga ketika akan tiba bayaran kuliah saya dapat dispensasi untuk bayarnya terlambat.  Keempat, Prof Dr. Kartomo Wirosuhardjo, M.A yang sangat setia membantu saya ketika saya menyelesaikan tesisku. 

Setelah semua proses perkuliahanku selesai akhirnya saya memiliki satu tambahan gelar Magister Manajemen yang benar-benar saya rasa raih dengan susah payah, selama kurang lebih empat tahun. Lama sekali memang, tetapi justru dari segi waktu yang lama ini maka saya belajar untuk menjadi seorang yang dapat menyelesaikan kuliahku dengan hasil keringat sendiri. Saya tambah percaya diri untuk menjadi seorang pedagang. Saya tidak ambil profesi lain karena menjadi seorang pedagang ternyata membuat saya menjadi seorang yang berpengetahuan ekomomi manajemen. Modal besar untuk menjadi seorang pedagang forex sejati. 

Saya gembira menjadi bukti hidup bahwa tanpa bantuan beasiswa seperti yang biasanya para mahasiswa S2 dapat mungkin dari lembaga yang mengirimkan mereka studipun, saya mampu untuk menyelesaikan studiku  magister manajamen.  Jadi kalau ditanya bisa selesaikan S2 karena dapat beasiswa dari lembaga mana? Saya biasanya maaf agak sombong bahwa saya tidak pernah dapat bantuan beasiswa untuk studi. Bahwa ada bantuan sedikit untuk saya kuliah mungkin dari para simpatisan saya karena kasihan sama saya itu tetp saya akui dan syukur bahwa mereka mau membantu saya. Untuk mereka itu saya doakan semoga selalu mendapatkan berkat berlimpah selama hidup di dunia ini maupun di akhirat.

Sampai di sini dulu ceritaku dan akan saya sambung pada bagian berikutnya.
 

================================
Pertimbangkanlah secara matang bila anda akan memulai trading forex. Forex trading memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Anda bisa kehilangan dana dalam jumlah besar bahkan hingga seluruhnya. Kami tidak bertindak atas nama pialang berjangka manapun dalam melakukan trading forex.