Laman

Saturday, April 2, 2016

PRINSIP INVESTASI

Dalam berinvestasi, ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami oleh investor. Entah itu investasi saham, tabungan, obligasi atau reksadana dan lain sebagainya.


Secara mendasar ada 2 tujuan dalam orang melakukan investasi,


1. Bagaimana caranya mendapatkan atau meningkatkan keuntungan.

2. Bagaimana caranya untuk menurunkan biaya



Untuk itu sebelum Anda memutuskan untuk investasi (daripada menabung) simak beberapa prinsip investasi berikut, sebagai salah satu pertimbangan Anda dalam memilih media investasi.



Tingkat Pengembalian Hasil


Setiap bentuk investasi yang baik, tentunya memberikan imbal hasil, disini kita belum berbicara besar kecil imbal hasilnya. Biasanya dinyatakan dalam hitungan persen dalam setahun istilah kerennya rate of return.


Terkadang kurang tepat apabila membandingkan rate of return antara sarana investasi. Alasannya disamping risiko tiap sarana investasi berbeda,, juga ditentukan oleh besarnya dana yang diinvestasikan, pendapatan yang diterima dan nilai sisa aset yang bisa jadi masih ada.


Semakin tinggi tingkat pengembalian hasil investasi maka semakin baik untuk dipilih. Harus diperhatikan juga modal awal yang dimiliki. Jika modal awal yang dibutuhkan sama besarnya, logis-lah apabila kita memilih yang rate of return nya lebih besar. Lebih bagusnya lagi apabila kita bandingkan dengan produk investasi sejenis, semisal Anda tertarik dengan investasi reksadana, didalam reksadana sendiri terdapat beberapa jenis, Anda bisa mempertimbankan reksadana saham dibanding reksadana pendapatan tetap yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, akan tetapi risiko nya pun tentu saja akan berbeda.



Risiko Investasi

Tak ada investasi yang tidak memiliki risiko. Istilah keren-nya high risk high return, pasti sudah sering Anda dengar.


Kalau Anda merasa tertarik investasi di Saham, jangan pernah tertipu oleh pialang yang menjanjikan 100% bebas risiko. Setajam apapun analisis mereka, sedekat apapun informasi yang mereka dapatkan dari sumber, seaman apapun strategi portofolio yang mereka terapkan, sebuah investasi tetap beresiko!.


Ada 2 jenis risiko dalam dunia investasi:


Risiko Eksternal, risiko yang dapat dialami seorang investor, dimana faktor pencetusnya berasal dari luar lingkungan investasi. Semisal: bencana alam, kebijakan pemerintah seperti perpajakan atau kurs suku bunga, atau adanya peraturan yang mengubah cara main dalam suatu sarana investasi.


Risiko Internal, tentunya kebalikan dari risiko eksternal, faktor pencetusnya berasal dari lingkungan investor itu sendiri. Semisal, kinerja perusahaan pialang, persaingan antar investor, perilaku konsumen dan lain-lain.


Kesimpulannya begini, jika Anda dihadapkan pada piihan investasi yang membutuhkan jumlah modal yang sama dan memberikan imbal hasil yang sama, pilih yang memiliki risiko paling rendah.


Semisal jika rate of return dari pilihan investasi saham, usaha toko buku, deposito memiliki imbal hasil yang sama 20% dalam setahun. Maka pilihlah deposito, karena memiliki risiko yang paling minim. Sayangnya, ada ga sih deposito yang memberikan return sampai dengan 20% ?



Tingkat Inflasi


Inflasi diperhitungkan dalam ber investasi karena memilki keterkaitan dengan nilai waktu dari uang. Seperti kita ketahui, jumlah dari uang yang kita milki sekarang akan berubah nilainya pada masa mendatang.


Semisal dengan Rp10.000 Anda bisa membeli 2 botol minuman ringan pada saat ini, belum tentu dalam 5 tahun mendatang minuman ringan tersebut memiliki harga yang sama, bisa jadi lebih mahal atau lebih murah (deflasi, hampir jarang terjadi!)


Kita ambil contoh dalam menabung di bank. Menabung di bank pada dasarnya adalah Anda meminjamkan uang kepada orang lain dengan menggunakan jasa pihak bank. Uang yang berhasil dikumpulkan oleh bank dari deposannya itu akan disalurkan kepada para nasabah yang akan membutuhkan pinjaman dalam bentuk kredit, apapun bentuknya. Tentunya bank akan menetapkan suku bunga yang tinggi kepada para peminjam dibanding dengan para deposannya, karena selisih bunga merupakan salah satu penghasilan bank.


Kita tak pernah ambil pikir tentang uang yang kita simpan di bank karena uang kita akan aman disimpan disana, dan kita pun mendapatkan keuntungan dari bunga yang didapat dari uang yang kita endapkan.


Pertanyaanya, bagaimana jika tingkat kenaikan inflasi lebih tinggi daripada suku bunga bank tersebut? Setiap tahun Anda akan merugi apabila tingkat inflasi lebih tinggi daripada bunga bank tersebut. Yakin Anda akan menyimpan semua aset Anda di bank?


Kesimpulannya adalah, bukan hanya tingkat rate of return suatu investasi harus tinggi, tetapi imbal hasil yang ditawarkan tentunya harus melebihi dari inflasi tahunan di suatu negara. Jika tidak, buat apa kita berinvestasi, mending digunakan untuk belanja yang bermanfaat atau memang dibutuhkan.


Jangka Waktu Pengembalian

Sering disebut dengan payback period, artinya seberapa cepat investasi akan memberikan imbal hasil untuk kita. Semakin cepat sebuah investasi memberikan imbal hasil untuk kita maka semakin baik instrumen investasi tersebut.


Jangka waktu pengembalian hasil investasi ini sendiri biasanya ditentukan oleh tujuan investasinya, apakah untuk investasi jangka pendek, menengah atau panjang. Misal sebuah instrumen investasi membutuhkan waktu lama sampai dengan 10 tahun atau lebih, bagi mereka yang memang mencari manfaat investasi jangka panjang memang itulah yang dibutuhkan.


Sebagai contoh investor yang memilih untuk berinvestasi dalam unit link sebuah produk investasi, memang tujuan utamanya adalah proteksi dari produk asuransi tersebut, tetapi setelah kewajiban preminya selesai, dia akan mendapatkan manfaat investasi dari unit link tersebut, bisa jadi dalam jangka waktu 20-30 tahun. Sambil menyelam minum air, mendapatkan proteksi sekaligus investasi meskipun dengan imbal hasil yang tidak terlalu tinggi namun dengan jangka waktu panjang dan risiko minim.


Likuiditas


Dalam investasi terkadang investor memperhatikan kemudahan pencairan dari instrumen investasi yang mereka pilih. Semakin likuid semakin baik. Alasannya adalah dalam dunia politik yang tidak menentu dan kondisi perekonomian suatu negara yang relatif labil, segala sesuatu dapat terjadi dan mempengaruhi kinerja instrumen investasi yang kita pilih, semisal saham dan forex.


Uang kontan tentunya memilki likuiditas yang tinggi, karena diterima semua orang dan dapat ditukarkan dengan barang/jasa dimana saja dan kapan saja. Tabungan tentu lebih likuid daripada deposito, karena dapat dicairkan saat itu juga via atm, sementara depositu harus mengikuti aturan main yang disepakati diawal, entah bulanan, tahunan dan sebagainya.


Likuiditas dibutuhkan untuk menghindari risiko eksternal yang fatal semisal bencana alam, kudeta, perang, aksi massa dan lain sebagainya. Apabila risiko ini terjadi, semakin likuid investasi Anda makan semakin mudah bagi Anda untuk menariknya dan memindahkannya ketempat yang aman, ke luar negeri misalnya.



Teori Portofolio

Ini adalah yang terakhir, sering kita dengar istilah dont put your egg in one basket. Jangan pernah menaruh dana kita dalam satu investasi. Tujuan mendasarnya adalah agar kita tidak mengalami kerugian besar jika investasi yang kita pilih tersebut gagal.


Banyak investor yang memilih untuk membaginya ke beberapa tempat, semisal 50% untuk membuka usaha, 30% untuk investasi aset properti dan 20% untuk deposito. Apabila usaha tersebut ternyata bangkrut masih ada properti dan deposito untuk menyambung hidup.


Selain untuk meminimalkan risiko, teori ini juga bermanfaat untuk memaksimalkan imbal hasil. Contoh sederhananya begini, Anda memilki bengkel motor rumahan yang telah memilki pelanggan setia di lingkunan Anda sekitar 50 pelanggan dalam satu bulan. Anda tidak bisa mengharapkan keuntungan lebih karena jangkauan usaha Anda hanya pada lingkungan usaha Anda yang memilki 75 pengguna motor. Daripada dana yang Anda punya Anda suntikkan untuk menambah modal usaha bengkel motor Anda, lebih baik dialihkan ke instrumen investasi lain, yang mungkin lebih memilki risiko yang lebih kecil daripada sebuah usaha bengkel.



In the End

Jika Anda memilki aset atau dana, dan Anda tidak ingin dana tersebut menguap dengan percuma entah karena inflasi atau untuk menghindari keinginan belanja hal-hal yang tidak perlu.


Tentunya Anda berharap supaya dana anda berkembang di masa mendatang. Untuk dapat memenuhi harapan ini, dana tersebut “dikimpoikan” dengan berbagai macam sarana investasi yang ada. Tentunya dalam memilih sarana investasi diperlukan berbagai pertimbangan dan semoga prinsip-prinsip diatas dapat membantu Anda dalam berinvestasi. Salam Sukses!
===================
Pertimbangkanlah secara matang bila anda akan memulai trading forex. Forex trading memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Anda bisa kehilangan dana dalam jumlah besar bahkan hingga seluruhnya. Kami tidak bertindak atas nama pialang berjangka manapun dalam melakukan trading forex.