Laman

Saturday, October 22, 2016

BERTOBATLAH! … KALAU INGIN SELAMAT

Inspirasi untuk renungan hari ini saya ambil dari Injil Luk. 13:1-9, sesuai dengan kalender Liturgi Gereja Katolik tahun C, 2016.
========================
Refleksi ini saya beri judul: BERTOBATLAH...kalau ingin selamat  
Konon, katanya pembunuhan yang dilakukan Pilatus terhadap beberapa orang Samaria, yang atas perintah seorang pemimpin dari sebuah golongan, lari berhamburan ke gunung Gerizim, di mana terdapat tempat ibadah orang Samaria. Biar supaya jelas, itu kata seorang ahli sejarah Flavius Josephus, seorang sejarawan Yahudi (38-100+ M). Namun apakah itu yang dimaksudkan dengan Injil Lukas perikop untuk hari ini? Saya tidak mau berandai-andai. Memang secara historis ada cerita yang bisa mengarah ke sana. Tetapi  saya lebih senang untuk mengungkapkan hal  lain yang lebih mendasar dari perikop di atas.
Yesus dalam perikop ini memperingatkan para pendengar-Nya untuk tidak mereka-reka sesuatu yang buruk dari kejadian ini atau dari kejadian-kejadian semacamnya, dan juga untuk tidak memanfaatkan kejadian ini untuk mencela orang-orang yang sangat menderita, seolah-olah karena penderitaan itulah mereka harus dipandang sebagai pendosa-pendosa besar. "Sangkamu orang-orang Galilea ini, yang terbunuh sewaktu memberikan korban persembahan, lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak, kata-Ku kepadamu" (ay. 2-3). Mungkin yang memberitahukan Dia tentang kabar orang-orang Galilea ini adalah orang-orang Yahudi. 

Yesus tahu betul maksud mereka yang hendak mencela orang-orang Galilea karena merasa lebih benar. Karena itulah mereka senang dengan hal-hal apa saja yang dapat dijadikan perenungan tentang orang-orang Galilea. Karena itulah Kristus membalas mereka dengan cerita tentang orang-orang Yerusalem, yang juga menemui ajal secara tidak terduga, sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita. "Nah, sangkamu kedelapan belas orang yang menemui ajal mereka di menara Siloam itu, sewaktu mereka mungkin sedang menunggu kesembuhan dari kolam Siloam, harus membayar keadilan ilahi jauh melebihi semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! Kata-Ku kepadamu." apakah kejadian ini membenarkan atau menuduh diri kita, kita harus menaati aturan ini, yaitu bahwa kita tidak bisa menghakimi dosa orang lain dengan melihat penderitaan mereka di dunia ini, sebab ada banyak orang dilemparkan ke perapian seperti emas yang hendak dimurnikan, bukan seperti kotoran atau sekam yang hendak dibakar. Oleh karena itu kita tidak boleh keras mencela orang-orang yang lebih menderita daripada sesamanya, seperti teman-teman Ayub yang mencelanya, supaya jangan sampai kita justru mengutuk angkatan yang benar (Mzm. 14:5).

Jika kita ingin menghakimi, cukuplah untuk menghakimi diri sendiri saja. Kita juga tidak mengetahui apa pun yang ada di hadapan kita, baik kasih maupun kebencian, sebab segala sesuatu sama bagi sekalian (Pkh. 9:1-2). 
Dalam menghakimi orang lain, marilah kita melakukannya dengan cara seperti yang kita juga ingin orang lain melakukannya terhadap kita, sebab sebagaimana kita berbuat kepada orang lain, demikian pula akan diperbuat oleh orang lain kepada kita. Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi (Mat. 7:1).

Isi dari bacaan dalam perikop ini berisi himbauan, seruan, atau mungkin lebih tegas perintah untuk bertobat loch.  Yesus secara terus terang mengatakan ini: “"Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa …" (ay. 3-5).
Dengan demikian, Ia telah menyodorkan ke hadapan kita kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, dan menyerahkan kepada kita sendiri untuk memilih.

Orang-orang yang menghakimi orang lain dengan keras dan kejam, tetapi mereka sendiri tidak mau bertobat, mereka ini akan mengalami kebinasaan yang  lebih mengerikan lagi. Takut? Yach satu-satunya cara adalah bertobat.

Sebenarnya seruan pertobatan ini, Yesus memberikan kesempatan  bagi pelakunya he he he. Yesus memang baik sekali. Masih mau memberikan kesempatan sekali lagi. Yesus tahu kita yang telah dipilihNya itu sangat istimewa di hadapanNya. Kalau sudah begini baik, mengapa tidak bertobat mulai sekarang? Saya tidak melanjutkan lagi refleksi ini. Silahkan lanjutkan refleksi anda mengapa harus bertobat…Pekerjaan rumah yach…

Deo Gratia
==============================
Pertimbangkanlah secara matang bila anda akan memulai trading forex. Forex trading memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Anda bisa kehilangan dana dalam jumlah besar bahkan hingga seluruhnya. Kami tidak bertindak atas nama pialang berjangka manapun dalam melakukan trading forex.