Laman

Tuesday, December 19, 2017

WIRA USAHA: SUKA DUKA GABUNG BISNIS MLM

Tulisan ini benar-benar di-copy-paste. Tujuanku untuk membuka wawasan para pembaca sekalian soal bisnis yang MLM, Multi Level Marketing. Harapanku, setelah membaca ceritanya, dapat memiliki sikap terhadap tawaran dari  para pelaku MLM, termasuk para pelaku MLM yang sekarang lagi heboh di dunia maya. Yang saya maksudkan adalah MLM  Joybiz berikut ini:

Silahkan membaca sharingnya hingga selesai. Penulis menyertakan juga sumbernya secara lengkap dengan maksud bila ingin mendapatkan informasi secara lengkap tentang suka duka join mlm sehingga memiliki gambaran yang lengkap. tentang bisnis multilevel marketing.------

Gak sengaja baca thread ini, jadi keterusan bacanya.
Terus terang, saya punya pandangan yang berbeda soal bisnis MLM. 
Pengalaman pertama saya join MLM bisnis itu di tahun 2012 dengan Oriflame,seperti yang kebanyakan pernah teman2 ikuti.
Saat itu dalam 3 bulanan saya mencapai posisi 9%, dengan bonus hampir 500 ribuan. Fully di jalani online, ketemu dengan banyak downline dari online.
Saya berhenti saat mencapai 9% karena terdistraksi promosi dari kantor, akan tetapi saya melihat pengalaman yang saya peroleh bersama Oriflame sangat positif.
Beberapa orang, layaknya manusia biasa yang bisa jengkel atau kecewa, banyak juga yang mengekspresikan kekecewaannya melalui posting status di facebook, tapi tidak sedikit juga yang menyikapi dengan bijak, dan terus move on – salah satunya ya, Yulia Makicakes, seperti telah di sebutkan di salah satu postingan. Saya tahu banget kaya gimana kerjanya Yulia, dan dia itu nggak pernah maksa2 dan nyindir2 lho.
Prinsip dari MLM ini seharusnya memang seperti menabur benih kok. 90% akan sia2, tapi 10% berbuah. 99 doors closed, another 1 door open. Kalau orang nggak mau, apalagi menolak dengan kasar, ya, berarti bukan dia orangnya – dan it’s OK. Kita mau ajak orang lain sukses, orangnya nggak mau, ya, sudah, kerja aja dengan yang mau. Fokus sama yg bisa, bukan yg nggak bisa.
Sebenernya, seringkali banyak prospek yang karena banyak mendengar hal negatif MLM, meski di jelaskan dan di tawarkan baik2, merespon dengan kurang proper. Kalau memang sejak awal sudak menolak, ya kitanya juga nggak mau ngejar2 kok. Banyak hal lain yg lebih penting untuk di kerjakan.
Pengalaman kedua adalah dengan Amway – Network 21, yang mulanya suami yang ikut, hingga hari ini.
Yang kita rasakan, banyak hal2 positif yang kita dapatkan yang nggak hanya sekedar uang. Kalo buat saya sih, uang itu saya bisa peroleh darimana saja, apalagi saya sendiri pun bekerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji lumayan, tapi, waktu dan kualitas sukses yang tidak bisa saya miliki, serta lingkungan positif.
Orang bilang, MLMers itu materialistis, uang saja yang di bicarakan, melulu hanya uang. Tapi saya rasa tidak. Uang itu hanyalah impact dari kerja keras yang di lakukan.

Pengalaman kami, malah para prospek, yang notabene non MLMers seringkali memandang segala sesuatunya dari uang semata. Bukan sekali dua kali kami atau downline kami di tanyakan : “memang sudah dapat duit berapa sih ?” atau “Sudah peringkat berapa, duitnya berapa ?” sampai kami sering mengurut dada, karena menurut hemat kami, pertanyaan itu tidak sopan. Sama seperti bertanya berapa gaji seseorang.
Terlebih lagi, saya melihat sendiri, betapa tingginya pun jabatan kita, itu tidak dapat di wariskan kepada anak cucu. Income yang masih bersifat active income, kalau ada bad things happen dengan kita, tidak dapat berkelanjutan.
Betul, di MLM bisa sukses cepat, tapi tidak mudah dear. Tidak instan. Harus pakai kerja, keringat, dan airmata. Ini soal bayar harganya di depan aja.
Betul, bisa dapat passive income, but it’s a process dear. Bukan instan. Bukan dalam semalam, dua minggu, atau sebulan.
Banyak orang bilang, coba MLM, sebulan, 3 bulan, setahun, gagal. Lha bisnis mana yang setahun bisa jadi milyarder ? apalagi sebulan atau 3 bulan. Kita Cuma bisa gagal kalo kita berhenti.
MLM, sama halnya seperti bisnis lain, ada modalnya, ada kerja keras yang harus di lakukan, perlu ekspertise, makanya perlu training. Sukses tidak pernah gratis.
Yang perlu di perhatikan adalah saat ada yang menawarkan tanpa kerja keras atau tanpa modal.
MLM yang benar, biaya bergabungnya relative terjangkau, kurang dari 200 ribu rupiah, dan tidak di wajibkan membeli ini itu untuk bergabung. Anda bisa pilih, mau pakai produk aja tanpa member, monggo, mau smart shopper, dapat diskon monggo, mau jalankan bisnisnya, go ahead.
Memang kalo di Oriflame, seperti banyak teman2 share, ada tutup poin yang wajib di lakukan, dan barangnya relatif murah, sehingga bagi yang tupo Pribadi, akan merasa yang bulan lalu belum habis harus beli lagi, yang ada stok numpuk. Tapi, kalau memang niat, banyak kok cara tutup poin. Ada downline saya di Oriflame dulu, yang fokusnya barang bazaar, diskonan super murah, yang dia tawarkan ke pabrik dekat rumahnya, dan it works. Setiap bulan dia tupo dengan sukses.
Di Amway, produknya adalah kebutuhan sehari2, yang kualitasnya bagus, dan tiap bulan kita pasti butuh kok, dan ngga pake syarat tutup poin. Tapi tetap aja ada yg komplen, mesti pakai produknya. Yg buat saya aneh bgt. Bisnis is all about revenue. Omzet. Jualan. Kalo sendiri aja nggak pake gimana bisa jual ? Kalo nggak ada yg di jual gimana bisa dapat uang ? Kalo nggak ada yg di jual di janjikan bisa dapat uang ya, itu namanya money game 

Satu hal yang perlu di lihat, apa worth it nggak di jalankan adalah, selidiki, sudah berapa lama di Indonesia ? apakah ada pelaku bisnisnya yang sudah bisa 100% hidup dari bisnis itu selama lebih dari 15 tahun ? apakah terdaftar di APLI ? Jika memang jawabannya Ya, maka saya rasa MLM itu dapat di pertanggung jawabkan dan worth it kalau kita mau fight di sana, membangun passive income.
Buat saya, bisnis MLM ini, kalau di lakukan dengan benar, Great. Oriflame, Amway, hanya sebagian dari itu. Banyak pelaku bisnisnya, ibu2 rumah tangga, dan mahasiswa, yang telah menikmati pemberdayaan ekonomi dari sana. Just being open minded aja. Coba aja sesekali datang ke Oriflame Opportunity Meeting, atau Leadership Seminar Amway. Amati dengan bijak dan pikiran terbuka, banyak hal positif di sana. 
Orang yang menolak, basically hanya orang yang memiliki sudut pandang berbeda, dan kami sangat menghargai perbedaan. Kalo semua orang MLM an, kita juga nanti bingung, di mana bisa jahit baju, beli sayur, beli kue. Tuhan itu adil anyway. Banyak sumber rejeki, termasuk MLM, dan pilihan kita mau menjemput yang mana kok.

No offense untuk yang anti MLM yah...
Sumber asli tulisan Suka Duka Join MLM di sini
Drs. Stefan Sikone, MM adalah  Guru Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) di sebuah SMA di Kabupaten Semarang, Penulis  dan Praktisi bisnis Online Trading Forex.
========================
Pertimbangkanlah secara matang bila anda akan memulai trading forex. Forex trading memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Anda bisa kehilangan dana dalam jumlah besar bahkan hingga seluruhnya. Kami tidak bertindak atas nama pialang berjangka manapun dalam melakukan trading forex.