Laman

Sunday, January 21, 2018

JOYBIZ: SKEMA PONZI ATAU MULTI LEVEL MARKETING

Pembaca pernah mendengar istilah “skema Ponzi” atau “skema piramida” dalam bisnis. Istilah skema pyramid  aplikasi sebuah bisnis  merupakan “turunan” dari skema Ponzi.
Di lain pihak ada juga istilah yang tidak asing yakni MLM, “Multi-Level Marketing” atau MLM.
Artikel ini untuk memberikan sebuah penjelasan tentang perbedaan antara keduanya.
Skema Ponzi (Ponzi Scheme)

Skema model ini diberi nama sesuai dengan nama “penciptanya”, yaitu Charles Ponzi. Ponzi lahir di Italia pada tanggal 3 Maret 1882 dengan nama Carlo Ponzi. Ia juga memiliki nama alias, di antaranya Charles Ponci, Carlo dan Charles P. Bianchi. “Penerusnya” cukup banyak di Indonesia.

Awal  1920-an ia hijrah ke Amerika Serikat. Ia cukup terkenal namun sayangnya ia terkenal  karena skema penipuan yang dijalankannya. Jaman now dikenal dengan istilah skema “investasi bodong”. Ia menawarkan produk filateli yang bernama International Reply Coupon (IRC), yang dikenal juga dengan nama postal reply coupon.
IRC sendiri merupakan kupon yang diterbitkan oleh dinas pos anggota UPU (Universal Postal Union) untuk mempermudah pengiriman perangko balasan ke luar negeri. Kupon tersebut nantinya akan ditukar dengan perangko di kantor pos negara tujuan penerima surat.
Ponzi  menyampaikan ide bahwa ia bisa mengambil keuntungan dari perbedaan nilai IRC di berbagai negara. Ia menjanjikan keuntungan kepada kliennya sebesar 50% dalam 45 hari. Itu sama dengan 100% dalam 90 hari.
Pada kenyataannya bisnis yang ia tawarkan tidak berjalan seperti yang ia presentasikan kepada para kliennya, padahal modal sudah terpakai dan ia harus merealisasikan janjinya. Akhirnya ia menemukan ide untuk membayar klien-kliennya dengan siasat “gali lobang-tutup lobang”.
Dalam siasatnya tersebut ia membayar keuntungan kliennya dengan modal yang diperolehnya dari klien lain. Polanya, ia membayar investor A dengan uang yang ia peroleh dari investor B yang bergabung setelah investor A. Ia terus melakukan itu sambil mencari cara agar uang para investornya bisa ia kembangkan dan mengembalikan semua “pinjaman” modal tersebut.
Skema pembayaran inilah yang kemudian disebut dengan “skema Ponzi”. Dalam istilah lain biasa juga disebut “money game”.
Skema tersebut menemui kegagalan ketika Ponzi mulai kesulitan merekrut investor baru, yang menyebabkan ia tidak mampu mengembalikan modal para kliennya. Akhirnya para investor menyatakan untuk menarik modal mereka, yang kala itu mencapai 40.000 orang dan dana hingga $15 juta.
Dalam perkembangannya skema ini mengalami modifikasi, misalnya menjadi “skema piramida” yang menjadi modus investasi bodong dewasa ini. Biasanya investor justru diminta untuk mencari investor baru dengan iming-iming sejumlah bonus tertentu bila ia berhasil merekrut investor baru.
Sama seperti yang dialami Ponzi, skema Ponzi gaya baru ini pun menemui kegagalan ketika perekrutan investor baru mengalami kemacetan. Bedanya, Ponzi dulu berusaha mengembalikan modal nasabahnya meskipun akhirnya gagal dan ia menyerahkan diri ke pihak kepolisian lalu dipenjara. Ia bahkan membeli perusahaan makaroni dan wine untuk mencoba mencari keuntungan guna membayar para investornya.
Sementara, pelaku investasi bodong masa kini kebanyakan melarikan diri dan “menghilang” bersama modal para nasabahnya. Mereka tidak “semulia” Ponzi, sang kreator skema investasi bodong.
Investasi sangat berbeda dengan Bisnis MLM. Berikut ini penjelasannya:
Multi-Level Marketing (MLM)
Terjemahan bebas untuk MLM adalah pemasaran berjenjang. Jika dilihat sekilas memang kita bisa melihat kemiripan antara skema penghasilan MLM dengan skema piramida money game, terutama jika kita hanya melihat skema pendapatan berdasarkan perekrutan “downline”.
Sebenarnya ada perbedaan yang cukup nyata antara MLM dengan money game.
Pertama, kita bisa melihat dari sisi biaya pendaftaran. Money game alias investasi bodong biasanya menjanjikan bonus dari “investasi” downline Anda. Bisa jadi, misalnya Anda mendapatkan bonus 10% dari jumlah deposit downline Anda. Hal ini tidak akan Anda temui pada bisnis MLM yang asli. Perusahaan tidak akan memberikan bonus kepada Anda dari biaya pendaftaran downline Anda.
Kedua, dari sisi bonus. MLM yang asli biasanya hanya akan memberikan bonus berdasarkan jumlah omset penjualan produk oleh downline Anda. Sementara kalau money game – seperti disebutkan di atas – biasanya memberikan bonus berdasarkan perekrutan anggota baru, yang diperoleh dari uang yang disetorkan oleh downline Anda.
Ketiga, tentu dari sisi produk yang dijual. Pada setiap bisnis MLM yang asli, selalu ada produk yang dijual. Produknya pun – selain perusahaannya tentu saja – jelas legalitas dan mutunya. Kualitas barang yang dijual bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan ada garansi dari barang yang dijual tersebut, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Sedangkan pada money game, tidak ada produk yang dijual. Bahkan memang tidak membutuhkan penjualan produk apa pun karena keuntungan yang Anda dapatkan hanya dari pengembangan jaringan Anda. Kalaupun ada beberapa investasi bodong yang ”melibatkan” barang tertentu, biasanya hanya sebagai kedok. Kualitasnya seringkali tidak sebanding dengan harganya yang seringkali terlampau tinggi.
Keempat, investasi bodong seringkali menjanjikan keuntungan yang tidak masuk akal. Persis seperti yang dilakukan Ponzi di masa lalu. Anda tinggal rekrut, semakin banyak semakin ciamik.
Kalau MLM, meskipun seringkali leader-leadernya terdengar terlalu optimistis dalam setiap seminar (kalau tidak boleh dikatakan lebay), tetap saja perhitungan keuntungan Anda peroleh masih masuk akal karena berdasar kepada berapa banyak produk yang berhasil Anda jual. Bonus yang akan Anda dapatkan pun akan tergantung pada seberapa besar omset jualan jaringan Anda, BUKAN pada berapa banyak orang yang berhasil Anda rekrut. Pada kenyataannya, untuk bisa mencapai level tertentu yang berpenghasilan besar, dibutuhkan kemampuan berjualan yang baik dan itu tidak bisa dikatakan mudah.
Joybiz adalah sebuah MLM yang baru saja dilauching pada awal 2018, dan diharapkan menjadi jawaban atas  harapan masyarakat bahwa sebuah bisnis yang mengandalkan pemasaran berjenjang harusnya benar-benar legal dan memiliki visi, misi yang hebat.
Demikianlah gambaran tentang skema pyramid dan multi level marketing dalam bisnis. Semoga membantu pembaca atau peminat untuk mengambil keputusan yang tepat dalam berbisnis. Jaman now adalah jamannya bisnis jaringan. @@@
Sumber penjelasan: di sini
Drs. Stefan Sikone, MM adalah  Guru Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) di sebuah SMA di Kabupaten Semarang, Penulis  dan Praktisi bisnis Online Trading Forex.

===========================================
Pertimbangkanlah secara matang bila anda akan memulai trading forex. Forex trading memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi. Anda bisa kehilangan dana dalam jumlah besar bahkan hingga seluruhnya. Kami tidak bertindak atas nama pialang berjangka manapun dalam melakukan trading forex.